Menu

Nov 28, 2010

Mengenal Shutter Speed atau Kecepatan Rana

a.k.a Kecepatan Rana dalam bahasa indonesia . Shutter adalah semacam layer yang menutup sensor . Pada waktu kita men-jepret , Shutter ini akan terbuka selama bbrp waktu sehingga sensor bisa merekam cahaya yang masuk melalui lensa . Durasi pembukaan shutter inilah yang dikenal sebagai Shutter Speed . Logikanya , semakin lama shutter dibuka akan semakin banyak cahaya yang masuk . Dan sebaliknya semakin cepat shutter dibuka maka makin sedikit cahaya yang terekam .


Satuannya detik . Satuannya lebih mudah dipahami ketimbang satuan Aperture . Untuk mengurangi banyaknya cahaya yang masuk menjadi setengah sebelumnya (-1 stop ), waktu Shutter Speed tinggal di bagi 2 . Dan sebaliknya , untuk menambah cahaya menjadi 2x sebelumnya ( +1 stop ) tinggal di kalikan 2 . Pada kamera Nikon D50 , nilai Shutter Speed yang dapat digunakan pada kamera adalah 60 , 32 , 16 , 8 , 4 , 2 , 1s , 1/2 , 1/4 , 1/8 , 1/16 , 1/32 , 1/64 , 1/125 , 1/250 , 1/500 , 1/1000 , 1/2000 , 1/4000 . 1/4000 . Range nilai Shutter Speed pada kamera tipe/merk lain kurang lebih sama . Pada beberapa kamera pro , kecepatannya bisa sampai 1/8000s . Cukup cepat untuk memotret peluru yang melesat !!


Slow Shutter Speed

Teknis dengan menggunakan shutter speed yang rendah ( nilai besar ) . Biasa digunakan pada kondisi kurang cahaya , shutter dibuka lebiiih lama agar kamera dapat mengumpulkan cukup cahaya untuk menghasilkan gambar yg kita inginkan . Jika kita memotret suatu scene dengan beberapa obyek yang bergerak , akan menghasilkan sebuah efek baru yang keren .

Misal memotret lalu lintas di malam hari menimbulkan efek “jalur cahaya” / lightrail . Lampu dari mobil2 yang berseliweran direkam dalam sensor .

Foto by ^sean, on Flickr

Foto by ^sean, on Flickr

Slow speed juga bisa menimbulkan kesan dinamis pada foto kita . Seperti pada foto air dibawah . Foto ini aga tricky karena diambil pada siang hari dimana masih banyak cahaya . Triknya adalah kita mengurangi cahaya yang masuk ke sensor dengan memasangkan sebuah atau beberapa (stack) filter ND ( Neutral Density ) . Filter ini akan mengurangi cahaya bberapa kali dari semula ( tergantung level filter ND ) sehingga kondisi banyak cahaya pun akan tampak seperti malam .

Foto by jurvetson, on Flickr

Foto by jurvetson, on Flickr

Atau yang lebih extreem dengan menggunakan mode BULB dimana shutter akan tetap dibuka selama kita menekan tombol shutter . Biasanya cuman ada di kamera DSLR ( beli beli hehehe ) . Di malam yang gelap sekalipun , kita tetap bisa menangkap momen yang ada ,seperti merekam lintasan bintang-bintang di langit.

Foto dibawah ini diambil dengan shutter speed = 16 menit .

Foto by stignygaard, on Flickr

Foto by stignygaard, on Flickr


Slow Shutter Speed dan Tripod
Tripod adalah suatu yg mutlak dibutuhkan jika kita ingin berexperimen dengan foto-foto slow speed . Alasannya karena kamera harus ditopang oleh obyek lain selama shutter terbuka . Jika tidak , maka foto yang dihasilkan akan blur karena kamera goyang geser kesana kemari . Manusia normal ga akan kuat berdiri diam memegangi kamera selama bbrp sec tanpa goyang . Kecuali ente manusia robot yang bisa meng-hibernate diri sendiri :p . Well , tidak harus tripod sih .. obyek lain seperti karung pasir juga bisa . Yang penting cukup solid untuk menahan kamera selama shutter terbuka . Okeh ?





High Shutter Speed
Ini teknik menghasilkan foto dengan kecepatan shutter yang tinggi (nilai rendah) . Kalau yang ini tidak perlu tripod . Cukup dipegang manual oleh kita dan foto yang dihasilkan dijamin tokcer . Teknik ini berguna untuk menangkap sebuah momen yang terjadi . Memberhentikannya tepat di posisi yang kita inginkan . Biasanya digunakan untuk sport , satwa .

Foto by Thomas Hawk, on Flickr

Foto by Thomas Hawk, on Flickr


Atau dengan menambahkan sensor suara kita bisa menangkap momen ketika balon meletus .
Foto by ttstam, on Flickr
Foto by ttstam, on Flickr


Normal Speed
hehehe ini mah karangan saya sendiri . Maksudnya speed shutter yang biasa digunakan sehari-hari . Di fotografi ada sebuah aturan yang menyatakan bahwa shutter speed ideal untuk menghasilkan gambar yang tajam (tidak blur) adalah minimal sama dengan panjang Fokal dari lensa yang kita gunakan . Misal , kita hendak memotret sebuah obyek dengan panjang Fokal 200mm maka shutter speed yang idealnya adalah 1/200sec . Untuk DSLR dengan crop factor 1,5x (Nikon) maka panjang fokalnya harus dikalikan 1,5 dulu..berarti minimal shutter speed adalah 1/300sec !! Setting shutter speed 1/300sec mudah didapatkan pada siang hari . Malam hari ? jangan harap .. Jadi pinter-pinter lah mencari sikon dan paham setting kamera agar kita mendapatkan shutter speed yang ideal . Itu aja sih intinya .. biar foto yg dihasilkan tidak blur ..
Eh foto blur tidak selalu jelek lho .. tajam juga tidak selalu bagus . Tergantung anda bos !! sang fotografernya . Jika kebetulan ada ingin meng-invoke sebuah “ketidakjelasan” lewat sebuah foto yg blur .. ya monggo !! asal penikmat foto juga mengerti maksud anda .. ya beres !! Itulah asyiknya fotografi.. UNLIMITED !!! . Tapi untuk kondisi normal kan biasanya orang prefer foto yang tajam dan tidak blur tho ? ya tho ?

Kaitan dengan Exposure
Seperti yang sudah saya ulas sebelumnya di Belajar Mengenar Aperture , exposure adalah kemampuan kamera untuk mengumpulkan cahaya yang masuk . Cahaya ini makanannya kamera .. Terlalu banyak foto yang dihasilkan akan terang benderang , terlalu dikit akan kegelapan . Pada umumnya , kita prefer yang tengah-tengah saja . Shutter Speed adalah salah satu dari 3 elemen penentu exposure . Lainnya adalah Aperture ( baca artikel sebelumnya ) dan ISO / ASA . Aperture dan ISO-pun juga bisa di atur dalam kamera , menentukan banyaknya cahaya yang masuk ke kamera .

Misal kita ingin menangkap momen sebuah artis rocker yang sedang manggung pada malam hari . Namanya rocker suka jingkrak-jingkrak , nah kita ingin menangkap ketika dia lagi jingkrak :) . Karena malam hari , kamera kekurangan cahaya untuk merekam momen itu .  Hemat saya , minimal speed 1/500sec lah .. Untuk mencapai speed sekian kita bisa merubah settingan 2 elemen lain yaitu Aperture dan ISO . Aperture , kita setting nilainya sekecil mungkin (bukaan besar) dan ISO sebesar mungkin . Berdoaaa dan bersyukur agar dapat speed yang kita inginkan . Jika tidak , cari sudut lain yg mungkin memberikan banyak cahaya lebih.. atau ganti kamera / lensa . Kameran / Lensa-lensa profesional dengan Aperture besar biasanya akan menguras kocek anda daleeeeeeem :) . Dibilangin cahaya itu penting …hehehehe

Akhir Kata
Forget the rulez .. :) .. explore aja kemampuan dari kamera teman-teman sekalian ! Gali inspirasi dari pengetahuan yang sudah ada . Bikin aturan baru .. banyaaak sekali kesempatan untuk berkreatif disini . Learn it and you’ll be better .. :)


Note : foto-foto diatas bukan punya saya jee .. Itu dicomot dari Flickr . Bukan nyolong kok.. emang lisensinya membolehkan . Sekedar utk tutorial saja .. kredit foto untuk fotografernya langsung aja ya , klik foto untuk membuka link di Flickr

Sumber : http://tukangmoto.wordpress.com/

Belajar Strobist

Strobist .. adalah teknik menggunakan flash/blitz secara off-kamera. Off – kamera ?? iya .. pada umumnya kan flash camera tersebut nancep di hot-shoe pada kamera . Nah off-kamera ini memungkinkan flash dapat ditrigger dimanapun tanpa harus terpasang di hot-shoe. Keuntungannya kita bisa memposisikan satu atau lebih flash di mana saja untuk mengatur arah, intensitas, cahaya untuk menghasilkan foto yg kita inginkan.
Kok bisa off-kamera ? sebenarnya pada beberapa kamera DSLR sudah tertanam fungsi tersebut ( master / commander  ) .. untuk kamera jebot kayak punya saya-pun sebenarnya bisa dengan asesoris tambahan . Well , semua kamera kayaknya bisa ya.. asal ada mekanisme untuk mentrigger flash .
  • di Nikon ada yang namanya Nikon CLS ( Creative Lighting System ) .. di Canon namanya E-TTL . Nikon CLS menggunakan IR ( infrared ) untuk berkomunikasi dengan flash – flash lain . Jadi harus line-of-sight dengan kamera lain meski kyknya bisa juga mentrigger flash lain di balik tembok ( link ) . Keuntungannya adalah canggih ! Body camera bisa berkomunikasi dengan flash-flash yang ada , mengatur power yang ada , mengatur white balance dsb dsb .. kita tinggal setting seperti biasa dan wah :) . Kerugiannya : harus line-of-sight dan mahal bo !
  • menggunakan Sync cable .. body kamera dan flash dihubungkan via kabel khusus. kerugiannya : beribet , banyak kabel2 bertebaran :) . Keuntungan: fungsi TTL masih jalan
  • menggunakan Radio trigger . Flash ditrigger dari kamera menggunakan frekuensi radio . Ada adapter khusus untuk mekanisme ini : transmitter dan receiver. Sesuai namanya pasti teman-teman tau artinya lah. Transmitter terpasang di body kamera . Jika flash di trigger , transmitter mengirimkan sinyal ke satu / beberapa receiver + flash . Keuntungan : tidak harus line-of-sight .. ini keunggulan utama yg banyak menarik minat orang. Kerugian : fungsi TTL (flash auto ) tidak jalan , harus manual . Dooh manual lagi ?? jaman udah canggih masih manual..hehehehe , yup manual . Hmm sebenarnya sudah ada sih , radio trigger yang bisa TTL . Silahkan google mandiri :)
Tutelyudetrut .. sebenarnya saya ga terlalu minat dengan dunia per-flash-an ini. Kayaknya ribet , ada tambahan control yang harus disetting bla bla..belum lagi penempatan posisi flash ini itu .. plus kayaknya mahal-mahal. Dan sedikit tambahan ego seorang fotografer naif dan culun : ” ah saya kan nature photographer .. cukup nature lighting saja” hahahaha .. well , ternyata ada secuil bakat kreatif terpendam dalam diri saya yg ingin keluar . The creative side of me..
Sampai akhirnya saya melihat DVD One Light workshop-nya Zack Arias .. saya mulai tertarik. Ternyata mudah , teori dan prinsip2-nya gampang diingat . Tidak jauh berbeda dengan konsep exposure pada umumnya dengan beberapa catatan seperti :
  • shutter speed mempengaruhi ambien exposure ( background )
  • inverse square law.. aga ribet nih diterangin tapi intinya exposure yang keluar dari flash akan berkurang secara bertahap dengan rumus inverse square law tersebut
  • ada tambahan lighting yaitu dari flash .. kita bisa control output-nya ( jika mode manual )
  • aperture dan ISO tetap fungsinya untuk mengatur cahaya yang masuk
Dan.. akhirnya setelah mendapat restu Istri tercintakuh dan setelah merelakan tidak jadi beli iPhone hehe , akhirnya terbeli juga beberapa perangkat strobist pemula. Oh ya.. saya memilih cara no 3 ( radio trigger ).  Lebih simple dan powerful karena tidak harus line-of-sight . Lagipula , sudah banyak asesoris yang 3rd party dan murah meriah . Tapi kan manual ?? ya .. trus ? hehehe .. saya juga mau ngetest ilmu manual-exposure nih . Sebenarnya ga ribet-ribet amat sih , asal konsep exposure sudah paham . Lagipula dengan mode Manual , foto yang dihasilkan tetap bisa konsisten dengan level exposure yang sama utk setiap foto. Ga harus tweak lagi di PS utk brightness controlnya kan? hehehe
  • Nikon SB24 , saya beli bekas nih mumpung ada yg jual dengan harga murah ( 950rb ) .. salah satu enaknya dengan radio trigger adalah kita tidak harus beli flash yang baru dan modern. Yang penting adalah bisa manual..lha wong yg dipake cuma manual power-nya kok :) . Nikon ?? karena satu kerabat :p .. ga ding , karena voltage-nya tergolong aman untuk di trigger dan ada PC socket .
    Btw.. saya masih cari flash lagi nih . Yg merasa ingin jual flash-nya dengan harga reformasi , post your offer in comment box below :) . Lho kok banyak? iya , sepertinya satu sumber lighting belum cukup euy .. minimal 2 , syukur2 dapat tiga :)
  • Radio trigger dari China .. murah meriah . 400-an saya sudah dapat 1 transmitter dan 2 receiver . Dapat dibeli di bursa FN mumpung masih ada . Penjualnya baik dan terpecaya.
    Kalau pny dana lebih , mending beli Pocket Wizard . Ini udah handal banget dan reliable. Saya mah masih dalam tahap belajar.. jadi yg ecek ecek dulu aja lah
  • Stuff .. ahhh iya .. asesoris tambahan seperti light stand , spigot , softbox , dll . Banyak juga sih.. itung-itung bisa kebeli iPhone juga nih :p
    But the good thing is .. komunitas strobist adalah komunitas kreatip . Semua asesoris tersebut bisa dirakit sendiri dari bahan-bahan rumahan yang ada . Misal softbox .. kayaknya pakai tutup tudung makanan juga bisa tuh :p atau cara lain ( Google )
Ok.. bosen teori ah. Praktek aja yuk .
hungry girl
hungry girl
Nikon SB24 saya letakkan menghadap ke dinding kulkas . Panggil anak saya “ra , ada es-krim di kulkas” .. dia buka pintu dan jepret . Mayan buat pemula lah (subyektif ) . Masih perlu banyak perbaikan sih .. misal lighting tambahan utk menunjukkan detil pintu / body kulkas hmm . Coba amati , background sekitarnya adalah hitam gelap. Padahal saya ambil foto nya pada kondisi lampu menyala lho .. kok bisa ?? kuncinya adalah saya menggunakan shutter speed yang tinggi yaitu 1/250s . Ingat poin yg saya sebutkan tadi .. shutter speed mengatur ambien exposure . Dan 1/250s sudah cukup untuk membuat ambien sekitar menjadi gelap. Satu2nya sumber cahaya yg ada ya dari flash tersebut ..  setting2 lain lupa ah.. ga penting kali :)
Hmmm .. segitu dulu deh. Stay tune .. kyknya saya bakal bnyk experimen dengan strobist ini . Klo ada yg salah2 mohon dikoreksi ya.. kan belajar sambil  menulis . yuk belajar bareng
Link belajar strobist :
belajar strobist dari awal
komunitas id strobist
artikel strobist di kompas

Sumber : http://tukangmoto.wordpress.com/ 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner