4 Des 2010

Nikon D90

nikon-d90-front


Sensor CMOS

Waktu saya membeli D90, harapan utama saya adalah kemampuan High ISO tanpa gangguan noise pada foto yang dihasilkan, yang selama ini saya dapatkan di D80 dan D70s.
Dan memang D90 dapat mengakomodasi kebutuhan saya akan hal ini, karena dapat menghasilkan foto ber-ISO3200 dengan noise yang acceptable. Memotret dalam kondisi cahaya minim menjadi lebih mudah, dan yang paling penting tidak bermasalah dengan noise!


User Interface


Untuk hand-grip, saya masih merasa dipuaskan oleh D70s yang sangat nyaman. D90 masih sangat mirip dengan D80, bahkan saya masih menggunakan vertical-grip MB-D80 untuk mengakomodasi kebutuhan grip yang lebih nyaman.

nikon-d90-back

Power-switch masih tetap seperti khas Nikon, yaitu berada di tombol shutter, sehingga sangat mudah diakses bila ada perlu menyalakan kamera dengan cepat saat ada momen tertentu dan kebetulan kamera sedang off.
Tombol-tombol akses di kamera masih sama dengan D70s/D80, hanya saja ada beberapa yang memang di-enhance atau dipindah posisikan. Namun kemudahan setting kamera masih sangat ditonjolkan oleh Nikon, sehingga perubahan setting tidak harus mengakses menu.
Layar 3.0” selain menampilkan hasil foto, juga menampilkan setting kamera seperti di LCD kecil di atas kamera namun lebih lengkap. Saya mengaktifkan fungsi ini bersamaan dengan pengaktifan lampu LCD kecil, sehingga bila saya mengaktifkan lampu, otomatis akan menampilkan setting kamera di LCD monitor (besar), yang juga sensitive terhadap cahaya.
nikon-d90-top


Menu


Menu tetap lebih unggul dan mudah dimengerti dibandingkan merk lain, dan pada D90 sudah dikelompokkan dengan lebih baik seperti di D300, fungsi bantuan (Help) juga dapat diakses dengan mudah cukup menekan tombol “?” pada kamera.


Speed


Kecepatan shutter maksimum masih sama dengan D80 yaitu 1/4000s, masih di bawah D70s yang 1/8000s. Namun kecepatan untuk continuous-shot lebih cepat dari kedua pendahulunya, maksimum hingga 4,5 fps.
Akses untuk mengatur ini dapat diatur tanpa harus mengakses menu, cukup menahan tombol di atas dekat LCD kecil dan menggeser dialer belakang untuk memilih mode: Single-Shot, Continuous Shot H (High), Continuous Shot L (Low), Self-Timer, Remote & Self-Timer, Remote.


Auto-Focus


D90 mempunyai motor AF di dalam body, sehingga masih dapat menggunakan lensa-lensa AF lama atau lensa AF 3rd-party. Modul AF yang masih sama dengan D80, yaitu dengan Nikon Multi-CAM1000, 11 titik AF lebih baik dari D70s. Fitur 3D-Tracking sangat membantu dalam penggunaan pemotretan aktif, tapi 11 titik focus untuk pengaplikasian 3D-Tracking sangatlah kurang memadai, apalagi dibandingkan 51 titik focus di D300/D700/D3 J

Di sisi lain, saya dapat mengoptimalkan 3D-Tracking ini untuk cara memotret saya yang khusus.
Face recognition hanya berlaku di Live-View mode



Live-View


Cukup responsive, hanya saja AF menjadi lebih lambat, walau cukup terbantu dengan fitur Face-Recognition.


Picture-Style


Walau menggunakan sensor CMOS, D90 tetap dapat menghasilkan foto dengan warna-warna khas Nikon. Namun tidak seperti pendahulunya, D90 sudah dapat mengaplikasikan picture-style, yang dapat di-download/upload dengan mudah, juga dapat di-adjust langsung di kamera.
Namun untuk mendapatkan picture-style yang sesuai, ada cara yang lebih mudah dibandingkan membuang-buang “shutter-count” di kamera. Yaitu dengan melakukan adjustment file RAW di computer menggunakan aplikasi ViewNX atau CaptureNX, hasilnya dapat langsung di-upload ke kamera.


Video-Mode

Untuk mode perekaman video HD, sangat mudah dioperasikan, namun AF tidak akan berfungsi, jadi siapkan kesigapan untuk memutar focus ring mengikuti objek yang sedang direkam.
Semua setting utk White-Balance, ISO, Picture-Style juga akan ikut terekam dalam video.
Microphone sangat sensitive, sehingga suara yang tidak terlalu keras pun dapat terekam dengan baik. Bila ingin merekam konser, sebaiknya microphone sedikit ditutup supaya suara yang terekam tidak pecah.

Wireless-Flash


Masih sama dengan D80, wireless flash di D90 mampu mengelola 2 grup flash saja untuk pengaplikasian Nikon CLS (Creative Lighting System), namun ini sudah cukup untuk memerintahkan 2 (dua) atau lebih flash Nikon untuk menembakkan cahaya yang berbeda kekuatannya sesuai pengaturan dari kamera.
Penggunaan mode wireless-flash ini sudah dicoba di siang hari di tempat terbuka, D90 masih dapat mengendalikan flash secara nirkabel sejauh 10-15m. Kemampuan i-TTL di wireless flash dapat diandalkan akurasi-nya, memberikan fill-in flash yang sesuai dengan kebutuhan fotografer.

Viewfinder Coverage


Masih sama dengan D80, belum 100%, apa yang anda lihat di viewfinder akan berbeda sedikit dengan foto yang dihasilkan. Karena apa yang kita lihat sudah tidak ada di dalam frame, masih ada kemungkinan untuk masuk ke dalam frame.

Kesimpulan:

D90 adalah kamera yang DSLR yang sangat responsive, handling yang mudah khas Nikon. Gambar dan warna yang dihasilkan sangat memuaskan. Akurasi metering yang juga teraplikasi dalam wireless flash sangat memuaskan saya.

Dengan segala fitur barunya seperti kemampuan ISO tinggi, 3D-tracking dan lain-lain, dipadukan lensa kit Nikkor AF-S 18-70mm f/3.5-4.5 sudah dapat memuaskan saya dalam menghasilkan foto-foto yang berkualitas.

Hanya saja untuk tangan besar seperti saya tetap membutuhkan tambahan battery-grip untuk menambah kenyamanan menggunakan kamera ini.

Sumber : http://www.reysphotography.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner